Polsek Mlati, Sleman, DIY, menahan pria berinisial PRN (41) warga Kapanewon Depok, Sleman. Dia diduga memalsukan surat izin kegiatan agar bisa menyelenggarakan lomba balap sepeda BMX di masa pandemi virus Corona atau COVID-19.

Kanit Reskrim Polsek Mlati, Iptu Dwi Noor Cahyanto, mengatakan kasus ini terungkap saat Unit Intelkam Polsek Mlati mendapat informasi adanya kegiatan balap sepeda BMX di Youth Center, Mlati, Sleman. Agen Slot Joker

“Kejadiannya tanggal 15 Desember sekitar pukul 10.00 WIB. Kami mendapati informasi balap sepeda BMX yang melibatkan orang banyak atau mengundang kerumunan,” kata Dwi saat rilis kasus di Mapolsek Mlati, Sleman, Senin (21/12/2020).

Petugas Intelkam Polsek Mlati kemudian mendatangi kantor Youth Center. Sesampainya di sana, ternyata ada pelaku yang hendak menyerahkan kelengkapan berkas perizinan kegiatan. Polisi kemudian mengecek berkas milik pelaku dan menemukan kejanggalan.

“Ada kejanggalan pada surat rekomendasi perizinan yaitu Surat rekomendasi perizinan No R/REK/308/XI/Yan.2.14/2020/Intelkam, tanggal 7 November 2020. Padahal sejak pandemi COVID-19 kepolisian tidak mengeluarkan surat izin kegiatan atau keramaian sejak Maret 2020,” ungkapnya.

Dwi membeberkan pelaku memiliki bisnis sebagai penyelenggara event organizer khusus olahraga. Sehingga pelaku masih memiliki berkas perizinan tahun 2019 yang kemudian pada beberapa bagian diganti.

“Karena sudah biasa mengurusi acara olahraga, pelaku masih menyimpan berkas perizinan tahun 2019. Dari berkas itu ada beberapa bagian yang diganti. Ada yang ditambahi mematuhi protokol kesehatan kemudian diberi tembusan ke Satgas COVID-19 Kecamatan Mlati,” terangnya.

Sementara itu, dari pengakuan pelaku, dia memalsukan surat tersebut agar acara balap sepeda BMX bisa berjalan.

“Dari Youth Center harus ada surat. Saya memalsukan dengan cara menempel pada bagian-bagian yang perlu diganti, karena ada cap-cap yang perlu saya edit,” kata PRN, saat dihadirkan dalam rilis kasus.  pragmatic slot indonesia

Polisi menjerat PRN dengan Pasal 263 ayat 1 dan 2 KUHP tentang pemalsuan. Ia terancam hukuman maksimal 6 tahun penjara.